Pada halaman pertama, ku kira Januari akan menjadi bulan dengan hari hari paling lama, setelah tertatih menapaki jutaan praduga di minggu terakhir bulan Desember.
Namun di lembar ketiga, tiba tiba sebuah tanya datang seperti angin yang menyapu debu di atas etalase kaca. “Kapan ada waktu dirumah?”
Dan pada lembar ke enam, akhirnya takdir membawa langkah kakimu untuk pertama kalinya datang mengetuk pintu rumahku. Akhirnya , perlahan kau menjawab takdir yang selama ini ku pertanyakan. Pembicaraan yang tak sampai satu jam, ternyata cukup untuk mengusir pergi ragu yang berminggu minggu menetap di balik dada.
Di hadapan orang tuaku, kau seperti hujan yang membawa kabar gembira. Jatuh di saat yang tepat diatas hatiku yang di landa kemarau. Perlahan, kau lipat jarak yang semula membentang tak terjamah seperti samudera. Dengan berani lagi merendah, kau pinta aku di depan mereka dengan sebutan “putri bapak”.
Apa yang harus ku ucap selain syukurku padaNya? Yang telah menjadikanku kesemogaanmu yang ingin kau segerakan. Menjadikanku tujuan yang amat kau perjuangkan.
Baiklah, aku mulai jelas melihat halaman halaman berikutnya.
Maka Mari kembali ke dalam pertemuan kita melalui doa doa. Doa yang pada siang hari menjelma menjadi usaha. Semoga sibukmu dan sibukku adalah kesibukan yang membuat Allah percaya, bahwa tak ada lagi alasan bagi kita untuk tidak disatukan segera. semoga penjagaanku dan penjagaanmu juga membuat Allah percaya, bahwa lapis lapis keberkahan, adalah tujuan bersatunya kita.
6 Januari 2016, pertemuan pertama || terimakasih telah datang
