Pertemuan di Januari

Pada halaman pertama, ku kira Januari akan menjadi bulan dengan hari hari paling lama, setelah tertatih menapaki jutaan praduga di minggu terakhir bulan Desember.

Namun di lembar ketiga, tiba tiba sebuah tanya datang seperti angin yang menyapu debu di atas etalase kaca. “Kapan ada waktu dirumah?”

Dan pada lembar ke enam, akhirnya takdir membawa langkah kakimu untuk pertama kalinya datang mengetuk pintu rumahku. Akhirnya , perlahan kau menjawab takdir yang selama ini ku pertanyakan. Pembicaraan yang tak sampai satu jam, ternyata cukup untuk mengusir pergi ragu yang berminggu minggu menetap di balik dada.

Di hadapan orang tuaku, kau seperti hujan yang membawa kabar gembira. Jatuh di saat yang tepat diatas hatiku yang di landa kemarau. Perlahan, kau lipat jarak yang semula membentang tak terjamah seperti samudera. Dengan berani lagi merendah, kau pinta aku di depan mereka dengan sebutan “putri bapak”.

Apa yang harus ku ucap selain syukurku padaNya? Yang telah menjadikanku kesemogaanmu yang ingin kau segerakan. Menjadikanku tujuan yang amat kau perjuangkan.

Baiklah, aku mulai jelas melihat halaman halaman berikutnya.
Maka Mari kembali ke dalam pertemuan kita melalui doa doa. Doa yang pada siang hari menjelma menjadi usaha. Semoga sibukmu dan sibukku adalah kesibukan yang membuat Allah percaya, bahwa tak ada lagi alasan bagi kita untuk tidak disatukan segera. semoga penjagaanku dan penjagaanmu juga membuat Allah percaya, bahwa lapis lapis keberkahan, adalah tujuan bersatunya kita.

6 Januari 2016, pertemuan pertama || terimakasih telah datang

Titip hatinya

Aku, aku hanya manusia. Tak bisa mengendalikan hati atapun menjaga perasaan seseorang agar tetap sama untuk waktu yang lama. Tak bisa memastikan hatimu agar tetap setia menujuku sampai waktu yang hanya kau sendiri yang tahu.

Lantas kenapa aku mau menunggu? Iya, aku menunggumu. Dalam hidup, aku belum pernah dengan yakin untuk mengijinkan seseorang masuk dan menetap. Tapi kepadamu, aku ingin melakukannya. Bukan mencoba, tapi dengan berani memutuskan untuk melangkah. Aku ingin menunggu seseorang yang memang pantas untuk di tunggu. Aku ingin menunggu seseorang yang kuyakini kedatangannya.

Hanya doa, doa yang menjadi senjata. Kepada hatimu, aku hanya menjaganya melalui doa doa. Ku titipkan seluruhnya pada Dzat yang memegang hati kita. Biar Dia yang jaga, biar Dia yang pelihara.

Allah, kuatkan hatinya, istiqamahkanlah ia.. 

kepingan rindu

1451351567225.jpg

Ini adalah kepingan dari rindu..

Rindu, bagi dua raga yang terpisah itu tak ada penawarnya. Sekalipun bertemu, tak ada artinya. Tak dapat saling sapa atau menyampaikan. Yang bisa mereka lakukan, hanya diam diam berdoa dan bersabar..

Semoga dua rindu itu segera bertemu .. di bawah naungan yang berlapiskan keberkahan..

Perasaan Seorang Ayah

“Sudah tibakah waktu bagi ayah melepaskanmu, putri yang selalu kecil dimataku?” Ucapku dalam hati saat memandangimu terlelap dari sudut pintu.

Beberapa jam yang lalu, kau mengajak ayah dan ibu membicarakan sesuatu. Ayah belum pernah melihat tatapan matamu yang seperti itu. Kau persilahkan kami duduk dengan lebih dulu menyuguhkan  dua cangkir kopi susu.

Awalnya kau diam tertunduk dan menghela nafas. Ayah pikir kau habis berbuat salah, padahal ayah sudah siapkan maaf dan candaan jika benar begitu perkiraannya. Tapi kemudian kau angkat kepala dan mengucapkan bismillah.

“Ada laki-laki.. yang ingin kuusahakan untuk diterima olehmu, ayah.” Tanpa ragu kau mengatakan itu. Apa? Laki-laki? Apa kau sedang memohon pada ayah?

Ayah tak pernah menyangka akan tiba masa dimana dengan berani kau bicarakan seorang laki-laki lain di hadapan ayah. Apa saat ini benar-benar waktunya?

“Laki-laki itu tak pernah memintaku melakukan hal seperti ini, laki-laki itu juga sedang berusaha memantaskan diri. Memantaskan diri untuk meminta aku pada ayah dan ibu nanti..”

Ayah mematung melihat kesungguhanmu, perasaan seperti apa ini? Beda sekali rasanya saat ayah hendak meminta ibumu dihadapan kakekmu, Nak. Ini lebih sakit, khawatir namun juga bangga menyadari kau telah tumbuh seperti ini. Ayah bertanya-tanya, darimana datangnya keberanian itu? Sedangakan menaiki sebuah bukit landai pun kau kuras air matamu. Memang seperti apa laki-laki itu?? Hingga kau sangat ingin agar ayah menerimanya tanpa ragu.

Ketahuilah.. bagi seorang ayah, tak ada usia yang pas untuk melepas putrinya. Kau selalu nampak elok dan kecil dihadapan ayah. Ayah masih mampu untuk menjadi kuda kudaanmu meski kau saat ini sudah masuk kepala dua. Ayah masih mampu mengajakmu berjalan-jalan mengendarai motor tua. Tapi.. hari ini ayah paham, bahwa kau sudah beranjak dewasa. Sepertinya laki-laki itu benar baik adanya. Laki-laki yang akhirnya mampu membuat putriku percaya dan bahkan meminta ayah melakukannya juga.

Tapi namanya ayah tetaplah ayah. Bawa saja laki-laki itu, ayah tak akan menerima begitu saja. Kau putriku telah berjuang meminta ayah menerimanya, maka ayahpun harus membuat dia memperjuangkanmu. Seberapa baik diin.a dan juga akhlaqnya. Siapkah dia berlelah menggelar sajadah di waktu malam. Dan siapkah dia bersusah payah menggapai keridhoanNya.

Sebab putri ayah bukan untuk di jadikan partner hidup susah, namun untuk dijadikan partner berjuang dalam beribadah.

Selamat tidur, putri kecil ayah

©esd || rumah, akhir oktober 2015

Saat kau tanya bahagia itu apa

“Untuk apa seseorang melakukan sesuatu dalam hidupnya?” Tanya perempuan itu dalam suatu diskusi terbuka.

“Untuk bahagia, tentu saja” jawab yang lainnya.

“Memang definisi dan makna dari bahagia itu apa?” Tanyanya lagi yang kali ini membuat sekitarnya terdiam.

Aku hanya memperhatikan dari sisi yang tak kelihatan

“Kenapa terdiam?” Selidik perempuan itu yang makin membuat orang lain bungkam.

“Kenapa orang2 selalu mencari bahagia sedangkan mereka tak tahu pasti tentang definisi dan maknanya? Aku penasaran dengan yang dimaksud bahagia hakiki seperti apa? Siapa yang bisa membuktikannya?”

Aku hanya tersenyum, memperhatikan pandanganmu yang penuh tanya dan pandangan mereka yang keheranan.

“Kamu mau tahu, bahagia itu seperti apa?” Saatnya aku angkat bicara

“Apa?” Kau menoleh padaku

“Bawa aku ke ayah ibumu, hadapkan aku dengan penghulu, kugenapi separuh diinmu, dan kita akan tahu arti bahagia setelah itu.”

Hening~

 

©esd || rumah, akhir oktober 2015

Mencintaimu dengan Benar

Di selasar masjid, kami sering mendapatinya duduk memegang kitab suci atau bercengkrama dengan beberapa temannya sesekali. Yang kalau orang orang bilang, mereka itu akhwat.

Dan temanku, suka memperhatikannya dari sudut ini bersamaku. Entah sejak kapan. Mungkin dia menyukainya. Aku sempat menawarkan diri untuk membantu dia mengenal perempuan itu. Tapi dia menolak dan selalu berkata “jaga, jaga..” aku bingung, apa yang mesti di jaga?? Kan hanya bertegur sapa bukan masalah besar. Aneh, pikirku

“Mencintai perempuan itu…” tiba tiba dia angkat bicara seperti membaca pikiranku saja. Aku kaget.

“Berbeda dan ada caranya.. Perempuan itu sedang menjaga diri , bahkan mungkin sesekali terjaga dengan kekhawatiran. Khawatir apakah ada laki laki yang berani mendobrak dinding penjagaannya dengan cara yang benar? Khawatir apakah ada laki laki yang bersedia mengetuk pintu hatinya dengan sopan? Dan.. Tugasku, adalah menghapus kekhawatirannya. “Ada.. pasti ada.” Ingin sekali ku katakan itu padanya. Tapi, aku disini sedang bersiap-siap. Bekal ku hampir penuh muatannya. Sebentar lagi, akan ku ketuk pintu rumahmu dan meyakinkan ayah juga ibumu. Maka ku harap,kau tetap disendirikan sampai tiba waktuku datang. Aku tak bisa mengatakan tunggu.. Sebab aku, sedang belajar mencintaimu dengan cara yang benar.”

Lanjutnya panjang lebar disertai senyum mendalam.

Cinta macam apa itu?

©esd || rumah, akhir oktober 2015

Berhasil

Alhamdulillah.. akhirnya setelah sekian lama ngotak ngatik password blog bisa kebuka jugaaa..

Udah bulan desember aja, 2015 udah mau berganti. Banyak cerita yang terjadi, dan bikin terkagum kagum sama skenarioNya..

Banyak yang disemogakan di tahun ini.. banyak juga saudari yang sudah mengubah predikatnya menjadi istri.

Aku? Aku masih mblooo wehehe. Biarin , yang penting aku ga lupa buat bahagia. Ahaha

In syaa alloh, sebentar lagi 😀

Ditemukan

2 April 2015, adalah tanggal terakhir aku memposting sebuah tulisan di blog ini. Kemana saja? Haha, untuk apa aku bertanya.. seperti ada yang mencari saja. Aku sebetulnya, sedang bersembunyi. Bersembunyi tanpa berharap ada yang menemukan. Terdengar klise, memang. Tapi begitulah kiranya aku, seperti menulis. Tak selamanya aku menulis karna berharap ada yang membaca. Aku hanya menyukainya, itu saja. Buktinya, dari dulu aku tetap menulis tanpa tahu siapa saja yang pernah membacanya.

Dan selama persembunyianku kemarin, aku merasa ditemukan. 2 x ditemukan. Pertama, dengan seseorang yang sama-sama suka membuat tulisan. Entah mengapa, aku merasa ada beberapa dari tulisannya yang seolah jawaban dari tulisan tulisan yang pernah aku tuangkan. Yang kedua, dengan seseorang yang…….. tentu kau sudah jelas siapa, bukan?? Seseorang yang entah menyukai tulisan juga atau tidak, bahkan rasanya mengetahui aku suka menulis pun tidak. Tapi, satu hal yang dia bawa yang lebih aku sukai dari sekedar tulisan, yaitu : kepastian.

Bukankah kau telah jauh lebih dulu memahami, tentang satu hal yang amat disukai oleh wanita ini? Pernah mendengar tidak, bahwa seribu laki laki yang pintar memberi janji akan kalah dengan seseorang yang memberikan bukti. Lalu tunggu apa lagi ? Wanita memang senang dengan tulisan romantis, tulisan yang membuatnya seolah baru saja menemukan seseorang yang amat memahami perasaannya. Tapi jangan lupa, wanita tak hanya untuk dipahami, kau harus segera memilih satu diantara mereka untuk kau nikahi. Iya, nikah! tak akan ku wakili dengan kata kiasan lagi. mengerti ??!

Bogor, 5 Juni 2015 || Eva Syari Devi

Pertemuan

Tiada hal didunia ini yang paling indah bagi dua insan yang sekian waktu telah saling menanti, selain yang satu ini : Pertemuan. Setiap detik yang berlalu seperti berbisik memberi tahu, bahwa waktu yang dinanti sudah semakin mendekat. Meski kapannya belum tahu, yang jelas tiap saatnya makin dekat. Detik detik itu seperti membuat titik putih pada tabir hitam rahasiaNya. Yang perlahan tapi pasti akan terlihat sosok yang telah disiapkan dibaliknya.

Banyak kisah kisah tentang pertemuan yang romantis bertebaran dimana mana. Sampai yang terbaru yaitu tentang usaha seorang ulama terkenal dalam menemukan sosok yang disebut “jodoh” untuk salah satu anak perempuannya. Jangan di tanya seperti apa laki-lakinya, dia hafidz bahkan menjadi imam solat malam juga. Dan diluar sana masih banyak kisah kisah serupa.

Lalu bagaimana dengan pertemuan kita? Aku sempat berpikir, betapa beruntungnya para gadis yang memiliki ayah seorang kiayi ataupun ‘ulama. Mereka pasti akan dicarikan sosok terbaik dari kalangan murid sang ayah, misalnya. untuk kemudian disandingkan dengannya. Tapi, pikiranku yang seperti itu jelas salah, amat salah.

Pertemuan kita, tak bergantung dari siapa orang tua kita. Waktu pertemuan kita juga tak akan bertambah lama jika ayahku bukan seorang ‘ulama. Pertemuan kita benar-benar berada di tanganNya. Kita hanya harus berusaha menshalihkan diri, mengoptimalkan potensi terbaik untuk menjadi hambaNya yang baik. karena salah satu janji yang Dia abadikan didalam Al Quran surat An Nur (Cahaya) : 26 adalah perempuan yang baik hanya untuk laki-laki yang baik pula, bukan bergantung pada kebaikan orang tuanya.

Dan kita juga hanya harus terus berdoa, karena seperti yang pernah ku bilang. Doa doa yang kita panjatkan itu akan melesat ke langit sana hingga membentuk sebuah tangga. Tangga yang akan mengetuk pintu takdir kita, agar pertemuan yang kita nantikan dapat terwujud lebih cepat dari waktu yang sudah Alloh tetapkan. Dan bentuk lebih cepat itu tak harus dalam arti sebenarnya, bisa saja Alloh akan memberi kita kesibukan dalam kerja kerja kebaikan hingga waktu yang berjalan menjadi terasa lebih cepat. Tapi dalam arti sebenarnya juga sungguh tak mengapa. he he.. karena bukankah doa bisa mengubah takdir, ya kan?

Sungguh, Alloh Maha Kuasa dalam mengabulkan doa seorang hamba tanpa mengurangi karuniaNya kepada hamba yang lain. Maka kau tak akan kecewa selama berdoa kepadanNya.

“walam akun bidu’aaika Robbi syakiyya : dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepadaMu, duhai Robb-ku” Qs. Maryam:4

Rumahku, 3 April 2015 || esd

Penerimaan Yang Baik

Dulu, sewaktu kecil mungkin sosok yang sangat ingin kita temui adalah sosok yang sering muncul di layar televisi. Sosok kartun maupun superhero, atau yang perempuan lebih ke barbie dan princess princess.

Beranjak ke masa SMP dan SMA, sosok yang paling ingin di temui lebih masuk di logika meski yaa ga jauh jauh dari apa yang ada di layar kaca, aktor dan aktris favorit. Atau bahkan tokoh tokoh luar negeri dari mulai boyband korea sampai tokoh arjuna dari India.

Hal hal seperti itu kenapa bisa terjadi ?? Karena pemahaman masing masing orang yang masih berbeda beda. Ketidak mengertian tentang hal hal yang bermanfaat sesungguhnya yang pada akhirnya membuat mereka masih betah dan menikmati euforia yang sejenis itu.

Padahal, di kehidupan sebenarnya, sosok yang amat sangat di butuhkan oleh setiap insan adalah sosok dengan penerimaan yang baik untuk menjadi orang terdekat kita. Ketika kita bertemu seseorang dengan penerimaan yang baik, dia tak akan sibuk memaki Alloh dan menyalahkan orang lain saat terjadi musibah dalam kehidupannya. Dia tak akan sibuk menuntut kelebihan kelebihan kita tanpa mau menerima sisi kekurangan kita. Dia akan menyediakan waktu lebih untuk mendengar penjelasan kita saat terjadi khilaf. Dia tak hanya memaksa kita untuk segera menjadi baik, namun mau bersabar dan menuntun dengan lembut dalam melewati proses kita memperbaiki diri. Dia juga akan membuat kita merasa dihargai, dengan mendengarkan nasehat kita tanpa tuduhan atau mencaci maki. Dia akan menerima dengan penerimaan yang sangat baik.

Seseorang dengan penerimaan yang baik selalu damai meski di tempat paling gersang sekalipun. Dia adalah sosok yang mengerti hakikat sebenarnya tentang syukur dan sabar. Karena apa? Karena adanya sebuah pemahaman yang benar yang telah lebih dulu tertanam pada hatinya. Apa pemahaman yang benar itu? Tak lain dan tak bukan adalah Al Quran. Al Quran telah diterjemahkan ke dalam hatinya sampai hatinya menjadi tajam dalam menilai tiap sendi dalam kehidupan. Dia tau cara menyikapi setiap hal sesuai kadarnya.

Seseorang dengan penerimaan yang baik tentu bukan yang memiliki hati sempurna selerti malaikat. Ia juga memiliki sisi kemanusiawian. Bedanya, dia bisa mengelola itu semua sesuai dengan Al Quran. Berhubungan dengan seseorang yang memiliki penwrimaan yang baik itu seperti memiliki sosok suami yang beriman. Kalau ada yang ia sukai dari dirimu, maka ia akan memuliakanmu. Kalau ada yang tidak disukai atau dia sedang marah, maka dia tidak akan mendzalimimu.

Dan dimana kita bisa menemukan sosok itu? Berlarirah ke cermin, nah itulah dia yang tak lain adalah kamu.. !

PengenJadiBaik , bismillahi tawakkaltu 🙂

Ada yang jatuh

Siang itu ada yang jatuh, di bawah pohon besar yang tak ku tahu namanya. Bukan daun atau batang. Melainkan bayangan yang sedang berteduh dibawahnya yang jatuh tepat di bola mataku.

Sudah berapa lama ini? Kalau tak salah hampir 9 tahun bukan? Ku pikir langit sedang linglung, hingga mengantarkanmu menjadi pemandanganku siang hari ini. Ada yang meletup letup dibalik dadaku, jadinya. Ternyata, masih seperti ini rasanya. Hampir saja aku lupa.

Cinta pertama? Entahlah, aku sih lebih berharap bahwa yang duduk disana menjadi cinta terakhirku. Ah, apa sih aku ini. Jangan mengkhayal, deh! Ingin rasanya ku hampiri, mendengarkan cerita tentang apa saja yang sudah kau lewati selama ini. Tapi kau sudah jelas berbeda, begitupun diriku. Jadi aku harus memperlakukanmu dengan jauh lebih istimewa. Hanya memandang dari jarak yang aman. Menjaga kehormatan yang sudah lebih dulu kau kenakan, hijab syar’imu.

Kesukaanmu sepertinya masih sama, ya? Senang memperhatikan orang, matamu tak lepas bergerak ke kanan kiri. Memperhatikan yang lalu lalang. Hanya yang sedang diam berdiri saja yang tak kau pandang, yakni diriku seorang. Tapi jangan, jangan menoleh! Aku ingin melihatmu sedikit lebih lama. Sebab ku anggap ini pertemuan pertama dan terakhir. Tak akan ku muncul di pandanganmu sebelum ku penuhi tabung kesiapan tuk meminang dirimu. Aku pun tak akan memintamu turun dari maqammu, biar aku yang naik. Agar tak perlu kau rendahkan segala kelebihanmu hanya untuk seorang pecundang seperti aku.

Akhirnya, aku jatuh cinta lagi. Ku tatap langit, membuat sebuah permohonan. Robbi, semoga dia cepat di satukan dengan jodohnya.

Kenapa? Merasa heran? Jangan salah paham, itu sama saja berbunyi seperti ini “Robbi, mampukan aku untuk segera menjemputnya.”

perempuanku~

Perumpamaan

Di dunia ini, ada laki laki yang setia pada Masjid. Menghabiskan hampir setiap waktunya di dalam sana. Rajin sekali. Sekitar 2 tahun lalu, aku mengenalnya. Dia satu-satunya orang yang memanggilku dengan awalan “akh..”. Setiap masuk waktu dhuhur, dia sudah berada di dalam, shodaqoh tenaga kalau boleh ku bilang. Sekedar menyapu atau membereskan mukena yang berserakan. Aku kadang geleng-geleng kepala melihatnya, bukankah yang memakai mukena itu perempuan ya? bukannya perempuan itu lebih dekat dengan kerapihan?

Siang itu sedikit berbeda, ku lihat wajahnya lebih berbinar namun sesekali ada raut kekhawatiran. Tiba tiba matanya terbelalak, lalu berpaling ke lain arah seperti beristighfar. Ada apa? Segera ku mencari sebabnya, melihat kepada objek yang sebelumnya ia tatap. Mataku ikut terbelalak, sedikit. Ternyata karena seorang perempuan , berkerudung merah yang menjuntai ke bawah. Haha, aku sadar dia juga seorang laki-laki biasa.

Ku ambil langkah menghampiri laki laki tadi. “Assalamu’alaikum, bro!”, sapaku seraya menyuguhkan segelas es balon yang sengaja ku beli untuknya. “Wa’alaikumussalam, akh. wiih makasih ya!” sambutnya gembira.

“tadi kenapa? ko kayak kaget gitu, lagi jatuh cinta ya?” ledekku dengan mendorong pelan pundaknya.

dia tak lantas menjawab, di seruputnya terlebih dulu es yang ku bawa dan membetulkan posisi duduknya.
“gimana ya?” katanya. “kayanya iya, tapi takut juga. Ane belum siap.”. Aku mengernyitkan dahi, “loh emang jatuh cinta harus nunggu siap ya?”.

“Bukan seperti itu, ane belum siap untuk ke pernikahan. Belum cukup modal.” Aku tambah bingung. “Jadi gini..”, lanjutnya yang menangkap kebingunganku. “Buat ane, ketika sudah ada cinta yang hadir. Berarti harus segera di tuntaskan dengan 2 pilihan. Tikam dengan kejam, atau bawa ke pernikahan.”

“kenapa harus terburu-buru di bawa ke pernikahan? Kau kan bisa saja menjalani cinta dalam diam. *tsaah”, jawabku dengan senyuman sumringah. Seolah pertama kalinya menemukan kata kata yang luar biasa.

“haha, ngapain akh, capek! jika seperti itu, siap-siap kau menjalani hari hari melelahkan. Memantau dari kejauhan, tenggelam dalam khayalan. Do’akan saja akh, agar ane segera di mampukan untuk mengungkapkan perasaan sekaligus melaksanakan lamaran.” dia menepuk bahuku.

“kenapa tidak di nyatakan saja sekarang dan meminta dia menunggu? ane yakin dia juga bakal percaya dan juga bersedia.”

dia tersenyum. “haha, ga begitulah akh. Ane menyatakan cinta tapi tak sekaligus mengajak untuk membawanya ke pernikahan? itu sama saja dengan ente yang ngomong lapar, lapar, namun tak segera mengisi perut dengan makanan. Apa yang seperti itu bisa dipercaya? Arman.. arman.. kau ini ada ada saja.” dia kembali menepuk-nepuk bahuku sebelum kemudian beranjak menuju mimbar. Meninggalkan aku yang terduduk keheranan. Ada pengertian baru yang ku temukan.

“Dasar, pintar sekali dia memberi perumpaan. Makasih, bro!” gumamku sambil menoleh ke arahnya. Menatap punggungnya di atas mimbar. Adzan pun berkumandang.

FOKUS

FOKUS

Belakangan ini, pikiranku seolah kabur dari pemahaman yang baik tentang satu kata itu, “fokus”. Tak sadar, bahwa pandanganku lebih sering tertuju pada hal hal yang masih mengawang di antara gumpalan awan di atas sana.

Aku terlalu asik dengan bayangan bayangan yang ku cipta sendiri. Ternyata, berbincang dengan “kamu” membuatku seperti tidak membutuhkan hal yang lain. Bersyukur Alloh berikan ku saudari yang membuatku kembali menginsyafi arti sesungguhnya dari satu kata itu. Bahwa fokus bukannya mengedarkan pandangan pada hal hal yang jadi penghalang, namun pilih 1 hal yang dapat kau tekuni dan istiqomahi. Alhamdulillah juga ada seorang adik yang sudah semakin pandai dalam mengambil pelajaran, hingga semakin jelas apa saja cela yang harus ku benahi.

Aku bukan tak ingin memikirkanmu lagi. Kamu dan pernikahan masihlah sesuatu yang pasti aku pikirkan hehe. hanya saja, kadarnya yang harus ku perhatikan. Jangan sampai, perasaan cinta yang terlanjur memenuhi ruang disini, menjadi sesuatu yang tumpah begitu saja tanpa ada kemanfaatan. Alias luber!

Jadi kuputuskan..

Fokusku.. untuk kalian saja..
mencurahkan perasaan dan pikiran untuk kalian..
menyalurkan cinta dan kasih sayang kepada kalian..
menghabiskan waktu luang yang ku punya dengan kalian..
memberi perhatian dan telinga yang siap mendengar juga untuk kalian..
berharap dengan itu semua, hidup kita dipenuhi keridhoan dan keberkahan..

Sebab berbicara cinta, tak melulu harus dengan seseorang yang nantinya kita kenal dengan “misua” hehe. Membagi perasaan itu pada mereka yang ada dalam dekapan ukhuwah juga tak kalah manis rasanya.

nah kan.. perkataan ‘Umar bin Khattab kembali terngiang
“Malam berlalu,
tapi tak mampu ku pejamkan mata dirundung rindu..
kepada kalian yang wajahnya mengingatkanku akan surga..
wahai fajar, cepatlah datang..
agar sempat ku katakan pada mereka..
“Aku mencintai kalian karena Alloh”

Bersama.. Menyuarakan Cinta

Ada yang tiba tiba jatuh cinta, merasa jadi orang paling bahagia. Padahal baru pertama bersua. Ini bukan tentang laki laki dan wanita. Ini tentang kita, para petugas penebar cinta.

Ada yang tiba tiba jatuh cinta, merasa jadi orang paling bahagia. padahal baru pertama bersua, jatuh cinta karena merasa sama. Merasa menempuh jalan yang sama, merasa telah memberikan pengorbanan yang sama. dengan rasa sakit yang sama, cemoohan yang sama, dan memiliki pengertian yang sama. Ya…Saat bertemu seseorang dengan cara berpakaian yang sama, misalnya. Yang dulunya dia tak kita suka, tiba tiba menjadi sama dengan kita. Maka kita serasa langsung jatuh cinta dengannya, padahal dulu tidak. Tiba tiba baik, tiba tiba ramah, tiba tiba dermawan. Karena melihat perubahannya yang juga serba tiba tiba, menurut kita. Padahal dulu? tidak.. biasa saja, acuh saja.

Apa islam mengajarkan seperti itu? apa kita hanya boleh cinta pada mereka yang sudah sama, yang berada dalam lingkaran yang sama, dalam barisan yang sama? ku rasa tidak..! Islam bukan menuntut kita untuk memberi cinta hanya kepada yang sudah sama. Tapi islam menuntut kita memberi cinta pada sesama manusia. bukan segolongan saja.

Dan padamu, saudariku.. aku bersyukur.bersyukur karena mencintaimu bukan terlrbih dulu karena jilbab panjangmu, bukan terlebih dulu karena pengetahuanmu. bukan terlebih dulu karena kita sekufu.

Aku mencintaimu jauh jauh hari sebelum itu. bahkan sebelum kita sepakat dalam akad. begitu bukan??

aku mencintaimu karena Alloh telah mengaruniakanmu dalam hidupku. aku mempelajari semua tentang dirimu sampai kekuranganmu. Dan dari sana kita belajar mrnyuarakan cinta yang sebenarnya. bahwa cinta bukan hanya bersuara pada mereka yang sudah sama. jauh di luar sana banyak juga yang mengharap cinta kita. yang sebenarnya ingin merasakan lembutnya tangan kita membalut satu persatu luka mereka. Jadi kita menyuarakan cinta pada siapa saja yang kit temuo di luar sana. Bukan masalah cinta mana yang lebih besar. Cinta untuk yang berda dalam dekapan ukhuwah tentu lebih besar. Tapi bukan berarti mereka yang di luar tak butuh cinta kita.

Jadi saudariku, Bersamalah menyuarakan cinta. Dari kepada yang paling dekat di depan mata sampai yang paling jauh di luar sana. Bersamalah menyuarakan cinta, tak perlu pandang siapa. Seperti rosul yang juga menyuarkan cinta bahkan kepada si penumpah isi perut onta. Pada si pembuang air liur di wajahnya. Sebab seperti itulah islam mengajarkan. untuk tak pilih pilih memberikan cinta..

saudariku.. bersamalah, menyuarakan cinta.

Bogor, 23 Febuari 2015 || esd

Cinta di Lain Makna

“Aku ingin bertanya, boleh??” ucap seorang teman kala kami sedang menghabiskan sore di pinggir danau.
“Silahkan saja, kau kan tahu..aku lebih senang di tanya dari pada di abaikan. hehe”
“Apa kau.. pernah jatuh cinta? Kalau iya, bagaimana rasanya?.”
“Ah, jatuh cinta. Memangnya kenapa??”
“Sudah..jawab saja.”
“iya..oke. Mm..bagaimana ya, kalau jatuh cinta itu di artikan sebagai sesuatu yang membuat kita merasakan banyak emosi di satu waktu, seperti senang, sebal, bahkan gangguan pencernaan ya berarti aku pernah.”
“Kalau merasa dicintai bagaimana?” Kali ini aku menoleh ke arahnya. terlihat lukisan air danau membayangi wajah sendunya. Sedang kenapa dia ini, tak biasanya.
“Dicintai? bagaimana ya, aku tak bisa menjawab dengan pasti. Rasanya belum pernah, karena aku juga belum memiliki seorang suami. hehe”
Dia diam, tak bergeming dengan jawaban yang aku lontarkan. Seperti sedang berpikir.
“Seperti itu ya..” akhirnya dia bersuara. “Pantas saja, lebih banyak orang orang yang merasa tak punya cinta, sebab cinta hanya di artikan seperti itu saja.” Dia menatapku . Sepertinya ini benar-benar serius.

“Cinta hari ini, telah bergeser kepada titik terendahnya. Dengan menerjemahkan kepada pengertian yang sangat sempit. Cinta di jadikan mahkota hanya kepada mereka yang akan mengorbankan segalanya untukmu, menemanimu setiap waktu, membenarkan semua pendapatmu. hanya itu. Padahal lebih luas, cinta itu memiliki kursi yang jauh lebih tinggi. Cinta adalah rasa yang mengharapkan kebaikan untuk kita, disini dan disana.” dia menunjuk ke langit.

“Cinta bukan hanya terdapat pada bahasa yang lembut namun menghanyutkan. Cinta juga terdapat pada bahasa yang seperti gulungan badai namun mampu membawa kita pada gelombang keinsyafan. Seperti marahnya orang tua karena kenakalan anaknya. Seperti nasehat seorang sahabat kepada sahabat lainnya. Tapi hanya sedikit, sangat sedikit yang mengartikannya sebagai bagian dari makna cinta sebenarnya.”

“Seperti kamu..” dia mengacungkan telunjuknya ke arahku. “merasa belum pernah di cintai hanya karena belum memiliki suami.” kali ini hidungku yang jadi korban capitan kedua jarinya, aw sakit!. “banyak yang saat ini sudah mencintaimu dengan benar, menyampaikan cinta dengan cara yang Rosul ajarkan. Banyak yang memberimu peringatan dalam kebenaran, kesabaran dan kasih sayang. Apa mereka semua harus menjadi suamimu dulu baru kau akui maksud dari cintanya? Lantas bagaimana denganku, teman sekaligus saudarimu?” matanya melotot, namun lembut. haha

Dan mendengar itu.. aku melipat bibir bawahku. dan segera menyembunyikan wajah di balik telapak tangan. hiks!!! maluu dan menyesal. Dia menepuk nepuk punggungku. Aku makin terisak dengan irama ingus yang bersahutan. “aah, jorook!” teriaknya. Kami pun menghabiskan sore dengan pelajaran berharga. Jazaakillah khoiyr, ukh atas pelajaran cintanya.

Bogor, 26 Febuari 2015 || esd